Kelompok Seniman ‘Gelanggang Seniman Merdeka’


Slideshow ini membutuhkan JavaScript.

 

Para seniman kelompok ‘Gelanggang Seniman Merdeka’ diantaranya Mochtar Apin, Baharuddin M.S., Henk Ngantung dan Asrul Sani sedang mendiskusikan lukisan Chairil Anwar. 1948, Jakarta. (Foto: Charles Breijer/Nederlands Fotomuseum)

SURAT KEPERTJAJAAN

GELANGGANG SENIMAN MERDEKA INDONESIA

Kami adalah ahli waris jang sah dari kebudajaan dunia dan kebudajaan ini kami teruskan dengan tjara kami sendiri. Kami lahir dari kalangan orang-banjak dan pengertian rakyat bagi kami adalah kumpulan tjampur-baur dari mana dunia-dunia baru jang sehat dapat dilahirkan.

Ke-Indonesiaan kami tidak semata-mata karena kulit kami jang sawo-matang, rambut kami jang hitam atau tulang pelipis kami jang mendjorok kedepan, tetapi lebih banjak oleh apa jang diutarakan oleh wudjud pernjataan hati dan pikiran kami.

Kami tidak akan memberikan suatu kata-ikatan untuk kebudajaan Indonesia. Kalau kami bitjara tentang kebudajaan Indonesia, kami tidak ingat kepada me-lap-lap hasil kebudajaan lama sampai berkilat dan untuk dibanggakan, tetapi kami memikirkan suatu penghidupan kebudajaan baru jang sehat. Kebudajaan Indonesia ditetapkan oleh kesatuan berbagai-bagai rangsang suara jang disebabkan suara-suara jang dilontarkan dari segala sudut dunia dan jang kemudian dilontarkan kembali dalam suara sendiri. Kami akan menentang segala usaha-usaha jang mempersempit dan menghalangi tidak betulnja pemeriksaan ukuran-nilai.

Revolusi bagi kami ialah penempatan nilai-nilai baru atas nilai-nilai usang jang harus dihantjurkan. Demikian kami berpendapat bahwa revolusi ditanah air kami sendiri belum selesai.

Dalam penemuan kami, kami mungkin tidak selalu aseli; jang pokok ditemui itu ialah manusia. Dalam tjara kami mentjari, membahas dan menelaah kami membawa sifat sendiri.

Penghargaan kami terhadap keadaan keliling (masjarakat) adalah penghargaan orang-orang jang mengetahui adanja saling-pengaruh antara masjarakat dan seniman.

Djakarta, 18 Februari 1950